Maret 2017
Newsletter Elektronik Bulanan – Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Artikel Utama   Editorial

1.
RAKORNAS STBM 2017: Sinergritas Lintas Sektor Menuju Universal Akses 2019
2.
Kemenkes: Masyarakat Perkotaan Menomorduakan Lingkungan Sehat
3.
Pencapaian 2019 : 100% Akses Air Minum,0% Kawasan Kumuh,100% Akses Sanitasi yang Layak
4.
5 Pilar Kurangi Penyakit Berbasis Lingkungan
 

Memperkuat komitmen berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama, terutama Pemerintah Daerah dan Lintas Kementerian dalam mewujudkan Akses Universal Sanitasi di Indonesia 2019, dan merumuskan garis besar pelaksanaan STBM 2015-2019 menuju Akses Universal Sanitasi di Indonesia 2019. Event nasional yang selalu ditunggu-tunggu oleh penggiat STBM, yakni Rapat Koordinasi Nasional STBM tahun 2017 yang telah terlaksana pada 20 – 23 Maret lalu, berlangsung di Hotel Discovery Ancol, Jakarta. Kegiatan ini mengusung tema "KolaboAksi, Kolaborasi aksi percepatan pemenuhan akses air minum dan sanitasi 2019 untuk Indonesia Sehat", telah menghasilkan kesepakatan yang mengarusutamakan STBM dalam percepatan target pemenuhan akses sanitasi seluruh masyarakat Indonesia tahun 2019 atau Universal akses 2019. Selamat Membaca !

Rekomendasi Pustaka Kontak Kami

Sejak diujicoba pada tahun 2005, ditetapkan sebagai strategi nasional pada tahun 2008, dan dijadikan program nasional sejak tahun 2014 untuk mempercepat upaya pencapaian akses universal sanitasi dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, STBM telah memiliki berbagai pembelajaran dan capaian. Perjalanan dan capaian STBM dari tahun 2005 hingga sekarang dipaparkan secara ringkas di dalam kalaidoskop STBM. Berbagai inovasi telah dilakukan sepanjang perjalanan STBM, tak menutup kemungkinan pula berbagai inovasi lain pun tengah dikembangka.

Secara ringkas inovasi-inovasi tersebut ditampilkan di dalam video pendek berikut:

  1. Universal Akses 2019 : https://www.youtube.com/watch?v=q6s0SJYUZLY
  2. Kalaidoskop STBM 2017 : https://www.youtube.com/watch?v=cDrT4HF9egc&feature=em-share_video_user
  3. Latar Belakang Talkshow Menteri Kesehatan dalam RAKORNAS : https://www.youtube.com/watch?v=dP1qd6CVDuY
  4. Smart STBM : https://www.youtube.com/watch?v=PU5zQC9JSgA&t=9s
  5. Smart Desa : https://www.youtube.com/watch?v=WyICc6tF8Jc
  6. E-learning STBM : https://www.youtube.com/watch?v=E03Ol_JvJN8
  7. Stunting dan Masa Depan Indonesia : https://www.youtube.com/watch?v=7tgiBhUI5Ac&t=15s

 

Sekretariat STBM Nasional: Direktorat Kesehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat
Gedung Kementerian Kesehatan Blok C Lantai 7 Ruang 716 - Jl. H.R. Rasuna Said Blok X.5 Kav. 4-9, Kuningan, Jakarta 12950 Telp. (021) 520-1590, Fax: (021) 520-1591
email: sekretariat@stbm-indonesia.org
website: http://www.stbm-indonesia.org

RAKORNAS STBM 2017: Sinergritas Lintas Sektor Menuju Universal Akses 2019

Rapat Koordinasi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (Rakornas STBM) tahun 2017 mengangkat tema Kolaborasi Aksi Percepatan Pemenuhan Akses Air Minum dan Sanitasi 2019 untuk Indonesia Sehat, dihadiri oleh beberapa K/L terkait seperti BAPPENAS, Kementerian PUPR, Kementerian Desa PDT & Transmigrasi, Gubernur Jawa Tengah & DIY, Dirjen Bina Bangda Kemendagri, Bappeda Provinsi, Perwakilan Badan Amil Zakat Daerah, di Hotel Discovery Ancol, Jakarta.

Kolaborasi untuk peningkatan STBM dalam rangka pelaksanaan GERMAS sesuai dengan Inpres No.1 tahun 2017, dengan pencapaian target 2019 melalui dukungan pendekatan STBM membutuhkan kerjasama lintas Kementerian sebagai upaya saling sinergi dan saling mendukung terhadap percepatan perbaikan sanitasi di seluruh Indonesia melalui pembangunan sanitasi yang dilakukan secara terencana, terpadu dan berkelanjutan.

MOU Pencapaian Universal Akses 2019 Melalui Pendekatan STBM

Kegiatan Rakornas STBM 2017 didahului dengan penandatangan MOU antara Kemenkes RI dengan BAPPENAS, Kemendagri, KemenPUPR, Kementerian Desa PDT & Transmigrasi, penandatanganan MOU membahas Pengurusutamaan STBM dalam Pencapaian Target Pemenuhan Akses Sanitasi Seluruh Masyarakat Indonesia di Tahun 2019 ,kerjasama tersebut dilakukan sebagai upaya peningkatan partisipasi masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dalam program pembangunan sanitasi dan air minum di Indonesia, serta arahan strategi bagi daerah dalam memberikan petunjuk kesesuaian program sanitasi dan air minum nasional dan daerah... >> Artikel selengkapnya

Kemenkes: Masyarakat Perkotaan Menomorduakan Lingkungan Sehat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut lingkungan sehat dan bersih di nomor duakan oleh masyarakat perkotaan. Padahal, sanitasi yang buruk dan tidak tersedianya air bersih menyebabkan berbagai penyakit berpotensi menyerang warganya. "Masyarakat di daerah padat yang ekonomi, kadang sanitasi dan air bersih di nomor duakan, yang penting kebutuhan perut dulu," kata Direktur Kesehatan Lingkungan, Imran Agus Nurali saat berada di Kelurahan Pekajon, Tambora, Jakarta Barat, belum lama ini.

Hal itu berdampak pada tingginya angka pesakitan dan stunting di suatu daerah. Ia menyebut, untuk mengatasi persoalan tersebut dibutuhkan kerja sama masyarakat di daerah itu. Ia meyakini, salah satu upaya yang bisa dilakukan yakni, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dengan mengelola sanitasi dan air bersih serta buang sampah pada tempatnya.

Imran berujar, membiasakan dan mengenalkan perilaku hidup bersih dan sehat harus di mulai sejak usia anak-anak. Ia mengingatkan, Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030 mendatang.

Ia khawatif, apabila kualitas usia produktif rendah, mereka tak bisa bersaing dengan dunia. "Daerah kumuh awalnya dari ketiadaan air bersih dan sanitasi jelek. Dampaknya pesakitan tinggi," jelasnya. Imran menyebut, setidaknya ada lima pilar STBM di perkotaan. Pertama, berhenti buang air besar sembarangan. Kedua, cuci tangan pakai sabun. Ketiga, pengelolaan air minum atau makanan rumah tangga. Keempat, pengelolaan sampah rmumah tangga. Kelima, pengelolaan limbah cair rumah tangga. >> Artikel selengkapnya

Pencapaian 2019 : 100% Akses Air Minum,0% Kawasan Kumuh,100% Akses Sanitasi yang Layak

Jakarta 15 Maret 2017, Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO mentargetkan pencapaian universal di 2019 adalah 100% akses air minum, 0% kawasan kumuh, dan 100% akses sanitasi yang layak. Pemerintah berupaya mewujudkannya dengan pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 3 Tahun 2014 tentag STBM.

“Harusnya target itu di seluruh wilayah di Indonesia harus bisa dicapai di 2019,” kata dr. Imran saat melakukan kunjungan ke Kelurahan Pekojan, Tambora, Jakarta Barat (15/3).

STBM merupakan pendekatan pembangunan sanitasi di Indonesia yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan perilaku. Pendekatan ini bertujuan mewujudkan perilaku masyarakat yang higenis dan saniter secara mandiri untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Pada pelaksanaannya, STBM dapat dilakukan seperti pola yang telah diterapkan oleh masyarakat di Kelurahan Pekojan, yakni dengan memberlakukan sedot lumpur tinja yang dibayar dengan sampah melalui bank sampah. Penyedotan dilakukan antara 1 sampai 3 tahun sekali tergantung besaran tangki septik dan jumlah orang dalam satu rumah. Semakin banyak orang di satu rumah akan lebih sering dilakukan penyedotan lumpur tinja. Penyedotan dilakukan dengan memanfaatkan gerobak motor yang disebut Kedoteng (Kereta Sedot Tangki Septik) berkapasitas 300 hingga 400 liter lumpur tinja. Kemudian dikumpulkan ke mobil tangki lumpur tinja yang disediakan oleh PD Pal Jaya untuk kemudian dibuang ke tempat pembuangan di Pulo Gebang dan Duri Kosambi.

Tarif penyedotan berkisar Rp. 330 ribu untuk 1 sampai 1,5 kubik. Pembayaran dapat dilakukan dengan sampah yang dikumpulkan di bank sampah.... >> Artikel selengkapnya

5 Pilar Kurangi Penyakit Berbasis Lingkungan

Sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk memicu munculnya penyakit berbasis lingkungan seperti diare kronik dan stunting. Pemerintah mencanangkan 5 pilar dalam program Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBM) untuk mengurangi penyakit tersebut. 5 pilar itu, yakni berhenti buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

“Terkait dengan pendekatan keluarga, lima pilar ini adalah pendekatan untuk perubahan perilaku masyarakat. Tujuannya untuk menurunkan penyakit yang berbasis lingkungan. Termasuk juga stunting akibat diare kronik yang disebabkan kekurangan gizi, Dampaknya, pertumbuhan tubuh terganggu,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO. Jadi kelima pilar ini, tambah dr. Imran, kita harapkan bersama-sama, tentu mulai dari pilar pertama, masyarakat bisamembuang air besar tidak sembarangan, agar tidak mencemari lingkungan dan air yang akan dikonsumsi.

Kemudian cuci tangan dengan sabun, itu dapat diaplikasikan melalui anak sekolah untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih, dan pilar lainnya. “Ini yang saya sampaikan tentang lima pilar ini dan dengan 12 indikator keluarga sehat yang salah satupoin di dalamnya ada keluarga memiliki/memakai air bersih dan memakai jamban sehat. Tentunya akan memperkuat pencapaian keluarga sehat,” kata dr. Imran. Selain itu, dr. Imran mengatakan saat ini secara nasional, akses sanitasi yang layak mencapai 68,06% data perhari. Kemudian desa dan kelurahan yang sudah bias berhenti buang air besar sembarang sekitar 8.429 desadari total sekitar 82 ribu desa.“Di DKI Jakarta total 73,69 % keluarganya sudah akses sanitasi yang layak,” tambah dr. Imran. >> Artikel selengkapnya

Artikel Terkait Lainnya :

1. Buang Air Besar Sembarangan pun Masih Ditemukan di Kota Besar
2. Di Pekojan, Beli Filter Air Dibayar dengan Sampah
3. Bappenas : Zakat Rujukan Pengentasan Kemiskinan