* Lokakarya Peningkatan Kapasitas Penyusunan Strategi Promosi Kesehatan Sanitasi dan Higiene Propinsi Bali, Nusa Dua-Bali, 15-17 April 2014 ........ ToT Sistem Monitoring dan Evaluasi STBM berbasis website dan SMS gelombang II (17 provinsi) di Balikpapan 5-9 Mei 2014

Kirim Data Melalui SMS, Mainan Baru Bagi Sanitarian

Sanitarian Kabupaten Gianyar bersemangat untuk mengirimkan data melalui SMS untuk melaporkan kemajuan pelaksanaan program STBM.

Sekali lagi pembelajaran tentang penerapan sistem pemantauan STBM berbasis website dan SMS. Kali ini pembelajaran dari Bali, tepatnya dari Kabupaten Gianyar. Setelah diperkenalkan pada tanggal 11-13 Desember 2012, Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar mengadakan on-the-job-training sistem pemantauan STBM berbasis SMS pada Januari 2013 lalu. Kegiatan diikuti oleh 10 orang sanitarian di Ruang Sidang Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar. Bertindak sebagai narasumber yaitu tim STBM Provinsi Bali berkolaborasi dengan tim STBM Kabupaten Gianyar.

Ternyata bukan hal yang mudah untuk membangkitkan semangat para sanitarian agar mau mengirim data melalui SMS. Sekalipun sistem pemantauan STBM ini sangat sederhana. Menurut sanitarian, jika hanya STBM saja yang menerapkan sistem tersebut, tanpa diikuti oleh program penyehatan lingkungan yang lain, mereka tetap harus datang ke Dinas Kesehatan untuk menyerahkan data secara manual. Selain itu, biaya pulsa menjadi pertanyaan besar para sanitarian. Asumsi biaya yang harus dikeluarkan setiap sanitarian sebesar Rp 7.500,- per bulan rupanya belum cukup untuk membuat mereka tergugah. Sanitarian masih membandingkan dengan kegiatan surveilans epidemiologi yang juga menerapkan sistem pelaporan sejenis. Di kegiatan surveilans tersebut, petugas mendapatkan fasilitas handphone berikut pulsa untuk mengirimnya.

Tim STBM mencoba menggugah mereka dengan cara menampilkan website STBM. Tampilan top 10 pengirim SMS terbanyak ternyata membuat mereka tercengang. “Wah..bisa terkenal ya”, “Kok bisa muncul ya?”, “Dari Bali belum ada?” Beberapa komentar tersebut terlontar dari para sanitarian yang hadir. Mereka tidak menyangka bahwa nama mereka pun bisa muncul di website. Bentuk apresiasi sederhana atas kerja keras mereka, namun membawa dampak psikologis luar biasa.

OJT GianyarTim STBM juga mencoba memotivasi dengan menceritakan beban para sanitarian di provinsi lain yang lebih berat dibandingkan sanitarian di Bali. Beban kerja para sanitarian di Bali bisa dibilang lebih ringan karena rata-rata hanya memiliki tanggung jawab 5-7 desa, sementara di provinsi lain bisa lebih. Tentu saja biaya yang harus mereka keluarkan jauh lebih besar karena jumlah desa yang dibina lebih banyak, bahkan bisa mencapai lebih dari 10 desa. Sanitarian yang duduk di posisi Top 10 tersebut juga tidak mendapatkan fasilitas pulsa, apalagi telepon seluler, namun para sanitarian tersebut tetap mau mengirimkan SMS secara sukarela. Jika dikalkulasi, biaya yang dikeluarkan untuk pulsa jauh lebih murah jika dibandingkan dengan menyerahkan data langsung ke Dinas Kesehatan. Dengan menyerahkannya langsung, sanitarian harus mengeluarkan biaya transportasi, biaya untuk membeli kertas, tinta printer, dsb. Penyerahan data tersebut juga harus menyesuaikan dengan jam kerja. Jika mereka melaporkannya melalui SMS, mereka dapat melakukannya kapan pun dan dimana pun. Program STBM ini memang khas, data progress harus terupdate lebih sering dibanding program yang lain. Jika program lain dilaporkan setiap 3 atau 6 bulan sekali, data akses sanitasi masyarakat ini diupayakan terupdate secara real time. Sebab pada masyarakat yang sudah dipicu, peningkatan akses sanitasi akan cenderung berjalan cepat sehingga tidak bisa menunggu. Resiko lupa mengupdate menjadi lebih besar.

Sesi praktek pengiriman data menjadi sesuatu yang menarik bagi sanitarian. Mereka seperti mendapatkan mainan baru. Beberapa sanitarian yang selama ini terlihat pasif, tidak berani bicara di depan orang banyak, malah kelihatan paling semangat. Apalagi setelah nama mereka muncul di layar. Suasana seketika berubah menjadi seru. Mereka tidak segan-segan mengajari sanitarian lain yang masih salah dalam pengiriman. Sekitar 80 SMS dikirim oleh sanitarian pada saat itu. Menurut sanitarian, sistem ini sangat membantu dan mudah diterapkan. Tinggal membiasakan diri mengirim SMS dengan struktur yang sudah ditentukan.

Pada akhir acara, dibuat kesepakatan bahwa pengiriman baseline data harus tuntas selambatnya tanggal 18 Januari 2013. Sanitarian bebas mengirimkannya secara manual atau mengirimkan melalui SMS. “Saya menyarankan agar Bapak/Ibu mengirimkannya melalui SMS saja karena lebih cepat. Jika dapat data 1 desa bisa langsung kirim. Jadi tidak perlu menunggu data desa yang lain lengkap. Disamping itu jika melaporkannya ke dinas, kinerja mereka tidak akan terlihat. Karena nama mereka sudah teregistrasi di sistem. Artinya sanitarian akan selalu dianggap tidur, tidak ada kerjanya.” himbau Avelino Soares, salah satu narasumber dari Seksi Evaluasi dan Pelaporan Dinkes Provinsi Bali.

Rupanya kalimat kunci tersebut mampu membangkitkan semangat sanitarian untuk memanfaatkan sistem ini. Pengiriman SMS tidak hanya berlangsung pada saat praktek saja. Hingga tanggal 14 Januari 2013, sudah ada 100 SMS yang terkirim. Terbukti, hari libur pun data tetap bisa dikirimkan dan langsung tersaji. Siapapun bisa mengaksesnya. Tinggal bagaimana kabupaten dan provinsi terus menjaga agar semangat itu tetap ada.

Ditulis oleh: Wida Indrayanti
Kontak: windrayanti7@gmail.com


Komentar Anda :
Sekretariat STBM Nasional : Direktorat Penyehatan Lingkungan, Direktorat Jenderal PP dan PL
Gedung D Lantai 1 - Jl. Percetakan Negara No. 29, Jakarta Pusat 10560 - PO BOX 223
Telp. (021) 4247608 ext. 182, (021) 42886822, Fax: (021) 42886822, email: sekretariat@stbm-indonesia.org